
DPD PKS KARIMUN
Latansa PKS Karimun di Pantai Pongkar: Kepemimpinan Dimulai dari Memimpin Diri Sendiri
Ketua DPW PKS Kepri, Suryani, mengingatkan peserta Pelatihan Perempuan Siaga bahwa kepemimpinan sejati bermula dari kemampuan mengelola diri sendiri, menjaga niat, dan senantiasa memberi manfaat bagi sesama.
BERITA UTAMARILIS DPW KEPRI
Editor Oleh : KomDigi
9/27/20262 min read


Ketua DPW PKS Kepulauan Riau, Suryani, sebagai pemateri utama.( Foto : Agusti )
KARIMUN — Hujan gerimis turun membasahi kawasan Pantai Pongkar, Kabupaten Karimun, pada Sabtu (27/9/2026). Namun cuaca tidak menyurutkan semangat peserta Pelatihan Perempuan Siaga (Latansa) DPD PKS Karimun. Kegiatan tetap berlangsung hangat, dengan menghadirkan Ketua DPW PKS Kepulauan Riau, Suryani, sebagai pemateri utama.
Dalam pembekalan kepemimpinan yang disampaikannya, Suryani menegaskan bahwa kepemimpinan tidak selalu dimulai dari kemampuan mengatur orang lain, melainkan bermula dari kemampuan seseorang dalam memimpin dan mengelola dirinya sendiri.
“Jaga niat di awal, di tengah, dan di akhir,” pesan Suryani kepada seluruh peserta.
Ia mengajak peserta menjadikan keikutsertaan dalam Latansa sebagai bagian dari ibadah, dengan senantiasa meluruskan niat. Suryani juga mengaitkan pesannya dengan Al-Qur’an, khususnya QS Al-Baqarah ayat 30 dan QS Adz-Dzariyat ayat 56, yang menjelaskan tentang kedudukan manusia dan tujuan penciptaannya.
Mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, Suryani mengingatkan bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Oleh karena itu, kemampuan memimpin orang lain harus didahului dengan kemampuan mengendalikan emosi, mengatur waktu, menjaga lisan, memperbaiki kualitas ibadah, serta terus meningkatkan kapasitas diri.
“Sejauh mana tarbiyah atau UPA kita berpengaruh pada kehidupan kita? Dari ibadah harian sampai materi UPA yang kita terima?” tanyanya, mengajak peserta merenungkan dampak nyata dari proses pembinaan yang telah dijalani.
Suryani juga menekankan makna sikap siaga bagi perempuan kader PKS. Menurutnya, siaga bukan berarti mudah panik, melainkan mampu tetap tenang saat menghadapi persoalan, cakap membaca situasi, dan mengambil langkah yang tepat. Ia mencontohkan keteladanan Khadijah RA yang hadir memberikan ketenangan saat Rasulullah SAW menerima wahyu pertama.
Di tengah derasnya arus informasi digital, Suryani mengingatkan peserta untuk tidak mudah terbawa arus. “Cek dan ricek sebelum share atau berkomentar. Berbicaralah di waktu yang tepat,” ujarnya.
Selain kemampuan membaca situasi, Suryani menyoroti pentingnya kepedulian dan semangat melayani. Ia mengutip prinsip khairunnas anfa’uhum linnas — sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Kepedulian itu, kata dia, harus dimulai dari lingkungan terdekat: keluarga, tetangga, hingga sesama kader.
“Jangan sampai ada anggota yang tidak punya beras, sementara struktur tidak tahu. Yang tahu, wajib membantu,” tegasnya.
Suryani juga menegaskan bahwa proses tarbiyah tidak ada istilah lulus. Pembinaan diri adalah proses seumur hidup. “Kita seperti satu tubuh — saling mengenali, saling membantu, dan saling sepenanggungan,” ujarnya menutup sesi.
Di bawah rintik gerimis Pantai Pongkar, pesan Suryani menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan seorang perempuan tidak hanya diukur dari kemampuan menghadapi dunia luar, tetapi dari kemampuan mengendalikan diri, menjaga nilai, peka terhadap sesama, dan senantiasa hadir memberi manfaat.*****


